Hukum mengganti soal ujian tanpa ijin pengajar aslinya?

Mengajarkan sebuah mata pelajaran ke santri atau jamaah kajian itu lebih mudah dibandingkan mencontohkan apa yang telah terucap dan diterangkan di sebuah kelas atau majelis ilmu.

Karena setiap guru terlebih seorang ustadz yang mengajarkan agama dan membimbing umat menuju jalannya Allah Ta’ala haruslah menjadi teladan, yakni antara ucapan dan perbuatan harus selaras dan sejalan.

Hal yang aneh jika ucapannya menyeru dan mengajarkan ; “jujurlah wahai para santri dan beradablah kalian serta merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla…!”, namun perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya, sedangkan Allah Ta’ala jelas memerintahkan diri kita semua terlebih menjadi da’i atau pengasuh sebuah pesantren yang mengaku bermanhaj salaf untuk mengerjakan terlebih dahulu apa yang kita ajarkan kepada santri-santri atau jamaah kajian yang kita diberikan amanah untuk membimbing mereka.

Allah Ta’ala berfirman :

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al Kitab?, Maka apakah kalian benar-benar memiliki akal sehat?.” (QS. Al-Baqarah : 44)

Asy-Syaikh Al-‘Allâmah ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsir beliau : “Mengapa kalian memerintahjan orang lain mengerjakan kebajikan,” yakni dengan keimanan dan kebaikan, ”sedang kalian melupakan diri (kewajiban) sendiri,” maksudnya kalian meninggalkannya padahal kalian memerintahkannya kepada orang lain, ”padahal “kalian membaca al-kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?” dinamakan akal itu sebagai akal karena ia dipakai untuk berpikir kepada kebaikan yang bermanfaat untuknya, dan sadar dengannya dari hal-hal yang memudaratkan dirinya, dan hal tersebut dibuktikan bahwa akal menganjurkan kepada pemiliknya untuk menjadi orang yang pertama meninggalkan apa yang dilarang. Maka barangsiapa yang memerintahkan orang lain kepada kebaikan lalu dia tidak melakukannya atau melarang dari kemunkaran namun dia tidak meninggalkannya, maka hal itu menunjukkan tidak adanya akal padanya dan kebodohannya, khususnya bila dia telah mengetahui akan hal itu, dan hujjah benar-benar telah tegak atasnya. Dan ayat ini walaupun turun terhadap Bani Israil namun ia bersifat umum kepada setiap orang. Sesuai firman Allah Ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?.” (QS. As-Shoff : 2)

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. As-Shoff : 3)

“Dalam ayat ini tidak ada suatu indikasipun yang menunjukkan bahwasanya seseorang bila tidak melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, maka dia boleh meninggalkan ajakan kepada kebaikan dan melarang dari yang munkar, karena ayat itu menunjukkan suatu kecaman berkaitan dengan kedua kewajiban tersebut. Bila tidak seperti itu, maka suatu hal yang telah diketahui bahwasanya setiap manusia memiliki dua kewajiban yaitu memerintah orang lain dan melarangnya, dan memerintah dirinya sendiri dan melarangnya. Maka meninggalkan salah satu dari kedua kewajiban itu bukanlah suatu keringanan untuk meninggalkan yang lainnya, karena idealnya adalah seseorang mampu melakukan kedua kewajiban itu dan demikian juga sangat aib sekali bila seseorang meninggalkan keduanya. Adapun jika dia melakukan salah satu dari kedua kewajiban itu tanpa lainnya, maka dia tidaklah dalam posisi yang ideal dan tidak pula pada posisi sangat aib. Lebih dari itu, diri manusia memang diciptakan dengan kecenderungan tidak respek untuk tunduk kepada orang yang perbuatannya bertentangan dengan perkataanya, maka peniruan mereka dengan perbuatan adalah lebih kuat daripada peniruan mereka dengan sekedar perkataan saja.” (Tafsir As-Sa’di)

Ayat ini meskipun turun berkenaan tentang ulama bani Isra’il, namun ia umum kepada setiap orang yang memerintahkan orang lain berbuat baik, namun ia melupakan dirinya ibarat sebuah lilin yang menerangi orang lain, namun dirinya habis terbakar. Di dalam hadits disebutkan:

مَثَلُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَ يَنْسَى نَفْسَهُ مَثَلُ الْفَتِيْلَةِ تُضِيء ُلِلنَّاسِ وَ تُحَرِّقُ نَفْسَهَا

“Perumpamaan orang yang mengajar kebaikan kepada manusia, namun ia melupakan dirinya sendiri adalah seperti sebuah sumbu, ia menerangi manusia sedangkan dirinya sendiri terbakar.” (HR. Thabrani dari Abu Barzah dan Jundab, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’, no. 5837)

Seorang yang tidak memiliki amanah mengajar sebuah mata pelajaran, namun mengganti soal ujian yang sudah dibuat oleh pengampunya, maka ini adalah kedholiman dan kedustaan kepada para santri yang mengerjakan soal ujian tersebut, meskipun dirinya pengurus pondok tersebut dan sementara beliau adalah mengampu mata pelajaran aqidah, dimana amanah ilmiah seorang yang mengampu pelajaran penting aqidah yang seharusnya menjadi teladan untuk takutnya hanya kepada Allah Ta’ala, bukan malah ucapan dan perbuatannya berbeda, sehingga para santri bingung dibuatnya. Dan perbuatan mengganti soal ujian tanpa ada konfirmasi ke pengampu aslinya ini dikategorikan sebagai penipuan, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam siapasaja yang berani menipu sesama muslim, Beliau bersabda :

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di Neraka” (HR. Ibnu Hibban 2: 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah, no. 1058)

Banyak dalil yang menunjukkan buruknya sifat dusta dan mulianya sifat jujur di antaranya adalah firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur (benar)!” (QS At-Taubah: 119)

Begitu pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Wajib atas kalian berlaku jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan (ketakwaan) dan sesungguhnya ketakwaan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan selalu berusaha untuk jujur maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang shiddiiq (yang sangat jujur). Kalian harus menjauhi kedustaan. Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada perbuatan dosa dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berusaha untuk berdusta, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang kadzdzaab (suka berdusta).” (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu: jika dia berbicara maka dia dusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya dan jika dia dipercaya maka dia berkhianat.” (HR. Muslim)

Seharusnya seorang yang mengaku mukmin, terlebih pengasuh pondok serta mengajar pelajaran aqidah dan manhaj lebih takut murka Allah, karena menipu para santrinya dan berbuat dhalim kepada pengampu pelajaran aslinya yang soal ujian santri yang sudah dibuat dengan mengukur kemampuan anak didiknya, malah diganti tanpa ada konfirmasi apalagi ijin, sementara beliau ini bukan haknya dalam mengganti soal ujian yang dibuat, karena tidak mengampu mata pelajaran yang ia telah ganti soal ujiannya.

Akhlak seorang mukmin itu adalah :

من يزرع يحصد

“Siapa yang menanam, maka ia akan memanen.”

Siapa yang mengajar sebuah mata pelajaran, maka ia yang berhak membuat soal ujian anak didiknya, karena ia lebih paham kondisi kelas dan tingkat pemahamannya anak didiknya.

من لا يزرع لا يحصد

“Siapa yang tidak menanam, maka ia akan tidak memanen.”

Siapa yang tidak mengajar sebuah mata pelajaran, maka ia yang tidak berhak membuat soal ujian anak didiknya.

Akhlak seorang penipu dan pendusta itu adalah :

من لا يزرع يحصد

“Siapa yang tidak menanam, akan tetapi ia ingin memanen.”

Siapa yang tidak mengajar, akan tetapi ia membuat soal ujian pengganti yang sudah dibuat oleh pengajar aslinya, maka ini adalah penipuan dan kedustaan yang nyata. Meskipun ia adalah pemimpin atau pengasuh sebuah pondok, karena aturan Allah Ta’ala wajib dijalankan oleh setiap muslim, terlebih seorang da’i yang dianggap sebagai panutan kebaikan oleh para wali santri dan jamaahnya.

Dimana rasa takut anda dan merasa diawasi Allah Ta’ala, sebagaimana materi pelajaran aqidah anda di kelas dan di masjid?.

Dimana akhlak dan adab anda wahai ustadz yang mulia sebagai seorang da’i yang lebih senior?.

Dimana amanah ilmiah anda wahai ustadz pengasuh pondok yang katanya bermanhaj salaf?.

Namun, jika seorang da’i ataupun pengasuh pondok yang sudah terkena penyakit merasa lebih senior ilmu atau umurnya, jangan sampai ketokohannya luntur dan ia ingin terus ditokohkan serta diakui petuah, wejangan dan keseniorannya, tentu akan bersikap melampui batas dan akan senantiasa melakukan kedhaliman.

Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah rahimahullah berkata :

حب الرياسة هو أصل البغي و الظلم

“Cinta ditokohkan (merasa senior, baik ilmu atau umurnya) adalah asal mula sikap melampaui batas dan perbuatan dhalim.” (Majmu Al-Fatawa)

Lalu, bagaimana hukumnya mengganti soal ujian tanpa ada konfirmasi ke pengajar aslinya?.

Hukumnya tidak boleh atau haram, karena perbuatan ini termasuk dari penipuan dan kedustaan terlebih soal ujian untuk santri adalah pelajaran diniyyah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kedhaliman itu adalah kegelapan (yang berlipat ganda) di hari Kiamat.” (Mutaffaqun ‘Alaihi)

Kedhaliman adalah sesuatu yang dibenci baik di muka bumi ini maupun di akhirat kelak dan pelakunya hanyalah mereka yang menyombongkan dirinya dan merasa memiliki kekuasaan.

Bentuk kedhaliman itu banyak yang berlaku di dunia ini, dan tentu hal ini tidak jauh dari pengertian dhalim itu sendiri ; “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.” Betapa banyak orang-orang yang seenaknya berbuat dan bertindak sewenang-wenang. Sebagai contoh : Sang suami sewenang-wenang terhadap istrinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab, menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Bos sewenang-wenang terhadap anak buahnya di perusahaan yang ia pimpin. Pengasuh pondok atau mudir sewenang-wenang terhadap tim pengajarnya; tidak ada surat kontrak mengajar yang jelas dua pihak saling ridha, tugas melebar kemana-mana, pengajar tidak saja menyumbangkan ilmu bahkan tenaga dan semuanya harus dicurahkan, cepat marah, tidak tabayyun dan menjatuhkan kehormatan pengajar di khalayak ramai bahkan di depan para santrinya, sangat sulit menerima masukan apalagi sebuah nasihat, mengghibah tim pengajarnya sendiri hampir tiap hari, tersingung jika ada dalil yang mengena ke pribadi atau keluarganya, marah jika merasa kehormatannya dijatuhkan namun diam tatkala pelecehan salam syariat agama semisal panggilan “Ustadz atau Ustadzah” untuk semua pengajar, bahkan bagian dapurpun yang tak mengajar pun dipanggil dengan sebutan Ustadz. Tetangga berbuat semaunya terhadap tetangganya yang lain; membuat bising telinganya, menguping rahasia rumah tangganya, usil, membicarakan kejelekannya dari belakang, mengadu domba antar tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanahnya tanpa hak, berapapun ukurannya. Dan banyak lagi gambaran-gambaran lain yang ternyata hampir semuanya dapat dikategorikan “perbuatan dhalim” karena “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.”

و الله والي التوفيق

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, yang berusaha menapaki jalan kebenaran di atas manhaj Sahabat. Âmîn

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di Bumi Allah – Cilembu, Kamis, 28 Rabiul Akhir 1443

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: