Fenomena pencari ilmu zaman now

Keahlian penuntut ilmu zaman shalafush shalih beradab dan berakhlak.

Keahlian pencari ilmu zaman now jagonya Menuntut.

Menuntut pengin dimengerti.

Menuntut dirinya disabari.

Menuntut dirinya dilembuti.

Menuntut Guru harus sempurna.

Menuntut Gurunya bergelar bahkan kalau bisa S3 (Doktor), namun dirinya saja tak bergelar.

Menuntut Gurunya yang terkenal, namun dirinya saja tak terkenal.

Pas giliran mereka dituntun oleh syariat Allah dan Rosul-Nya, berbagai alasan jawabannya :

“Kan butuh proses …

Belum siap …

Harusnya kan ini itu …

Wah belum cocok tuh …

Tapikan … kan … kan …”

Segudang alasan dikeluarkan, padahal yang menuntutnya adalah yang menciptakannya dan yang memberi rizqi mereka yaitu Allah Ta’ala.

Dan lebih miris lagi orang yang menyampaikan nasihat yang sesungguhnya hal itu dari Allah dan Rosul-Nya, malah dibully.

STOP JAGO MENUNTUT!!!.

Dakwah itu yang paham ya pelaku dakwahnya, bukan setiap orang berbicara dakwah.

Ingatlah kerusakan akan terjadi jika yang menyerukan sesuatu bukan bidangnya.

Mad’u (jamaah kajian) tugasnya mengambil ilmu dan mengamalkannya, bukan membanding-bandingkan para Da’i, karena mereka pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Tak melakukan adu domba antar Da’i sana-sini, karena para Da’i bukanlah domba sehingga tak pantas diadu, domba yang asli saja tak boleh diadu, apa lagi orang-orang yang mulia menyeru ke jalan Allah, masa dijadikan domba dan diadu sana-sini, sehingga menimbulkan kerusakan dimana-mana.

Para Da’i itu sulit untuk cek-coknya, jika tak ada calonya.

La wong para Da’i sama-sama sibuk menimba ilmu dan berdakwah.

Cek-coknya para Da’i adanya calo yang tak bermutu dan sibuknya membicarakan fitnah dan menebarkannya.

Dinasehati oleh Gurunya, malah balik nasihat dengan jalan berbagai alasan.

Salah alamat!.

Yang lebih aneh lagi Gurunya yang diambil ilmunya tak lepas dari lisan jahatnya.

Bagaimana mau berkah ilmu yang telah didapatkan?.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di bumi Allah – Bekasi, Diperbaharui di Kajen

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: