Belajar aqidah dari dasar

Kapan ujian terbesar dan terberat pada diri kita?.

Ketika diri kita dipuji dan diakui, karena pujian dan pengakuan itu sesuai kemauan hawa nafsu masing-masing yang ada pada diri kita, dan sesungguhnya pujian dan pengakuan itu adalah haknya (milik) Allah, bukan haknya seorang hamba, sehingga jangan sampai diri kita sebagai makhuk Allah yang lemah ini malah menjadi takabbur dan mudah meremehkan yang lain, karena mendapatkan pujian dan pengakuan dari makhluk yang hakikatnya sama-sama lemah seperti diri kita.

Sehingga dititik inilah seorang diuji apakah ilmu aqidah atau tauhidnya benar atau sekedar pelajaran semata, jangan sampai malah kita berkata: “ini adalah nikmat dari Allah,” padahal ini adalah ujian terbesar untuk diri kita, apakah kita mengakui itu haknya Allah yang dipinjamkan atau malah merasa pujian dan pengakuan dari manusia yang lain itu datang disebabkan karena hasil dari jerih payah kita.

Karena sesungguhnya semua kebaikan yang sudah kita usahakan dan dikerjakan semaximal mungkin, lalu mendapatkan pujian dan pengakuan, hakikatnya itu datangnya hanya dari Allah Ta’ala semata, hal ini sesuai dengan :

لا حولا و لا قوة إلا بالله

“Tidak ada daya upaya dan kekuatan melainkan datangnya dari Allah semata.”

Aqidah yang benar itu bukanlah sekedar pelajaran dari sebuah buku, namun harus dilatih dengan jalan mencontoh dari perilaku para Sahabat, karena tidak mungkin seorang aqidahnya benar tanpa mempelajari perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum.

Kapan ujian itu ringan pada diri kita?.

Ketika diri kita tidak dipuji dan diakui, sehingga menjadikan sebab seorang hamba lebih sibuk dan mendekat hanya kepada Allah semata.

Ilmu tauhid atau belajar aqidah yang benar itu mudah diambil dari sebuah kitab; namun tidak mudah diamalkan, karena ia harus dipahami, dilatih dan dilekatkan ke masing-masing hati kita. Dan ia tidak bisa ditempelkan ke hati dengan hanya teori, namun wajib dengan mencontoh amal dan akhlak serta adab para Sahabat radhiallahu ‘anhum.

Oleh karenanya siapapun yang mengusahakan sesuatu kebaikan dan ia belum mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia yang lain, maka jangan gelisah dan sedih karena hal ini menunjukan kita dimudahkan untuk lebih mendekat kepada Allah Ta’ala dan mengadukan semua yang dialami oleh diri kita yang lemah ini hanya kepada Allah semata.

Jika seseorang telah mengusahakan suatu kebaikan dan belum merasa mendapatkan pujian dan pengakuan, lalu ia terus mencari dan mengupayakan pujian, sanjungan dan pengakuan dari manusia yang lain, maka Allah Ta’ala akan menurunkan kegelisahan dan gundah gulana kepada seorang yang seperti ini. Karena Al-Imam Syafi’i rahimahullah pernah menasihatkan :

رضا الناس غاية لا تدرك

“Mencari ridho manusia itu tidak akan pernah tercapai.”

Kenapa, mencari ridho manusia tidak akan pernah tercapai?.

Karena ridho manusia berbeda-beda dan berubah-ubah, adapun ridho Allah dan Rasul-Nya tetap dan menenangkan hati.

Al-Imam Muhammad bin Aman Al-Jami rahimahullah berkata :

رضا النّاس غاية لا تُدرَك و ليست بمطلوبة لكن رضا الله غاية تُدرَك و مطلوبة

“Keridhaan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dapat digapai dan bukan sesuatu yang dicari, akan tetapi keridhaan Allah adalah tujuan yang dapat diraih dan dicari. (Syarh Al-Wajibat Al-Muhattamat)

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di Bumi Allah – Cilembu, Ba’da Subuh, Rabu 19 Rabiul Akhir 1443

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: