Adab berbicara kepada seorang yang memiliki keutamaan

Salah satu keutamaan para Sahabat radhiallahu ‘anhum adalah mereka memiliki akhlak serta adab yang tinggi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mereka bertanya atau berbicara, maka suara mereka di bawah suara Nabinya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat : 2)

Setiap mukmin wajib berbicara dengan adab yang mulia kepada seorang yang memiliki keutamaan, terlebih keutamaannya adalah berkaitan dengan ilmu agama, maka seorang yang mengaku mukmin wajib berkata dan bertanya dengan intonasi suara yang lebih rendah dari yang diajak berbicara.

Kemuliaan dan keutamaan seorang hamba itu berbeda-beda sesuai dengan iman, ilmu dan amalnya.

Dikisahkan bahwa Sahabat Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu suaranya meninggi ketika berbicara kepada seorang yang sangat memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa lagi jika bukan pamannya Beliau sendiri yaitu Abu Jahal La’natullah ‘alaihi, dan sikap yang dilakukan oleh Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu dilihat oleh Umayyah bin Khalaf sambil ia berkata kepadanya :

لا ترفع صوتك يا سعد على أبي الحكم، سيد أهل الوادي

“Janganlah engkau angkat suaramu wahai Sa’ad kepada Abil Hakam ia adalah pemuka (pemimpin) kaum di sini (Qurays).” (HR. Bukhari, no. 3950) [¹]

Abu Jahal adalah seorang yang jelas memusuhi dan sangat keras permusuhannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini saja Sahabat Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu dilarang untuk meninggikan suaranya ke Abu Jahal (kecuali dalam peperangan, diperbolehkan) karena ia adalah tokoh dan pemimpinnya orang-orang Quraisy, apalagi teriak-teriak kepada yang memiliki kemuliaan ilmu agama semisal seorang Ustadz yang mengajarkan dan mendidik umat, meskipun Ustadz tersebut adalah seorang anak buah di sebuah lembaga pendidikan atau pesantren, maka jelas dilarang oleh syari’at agama Islam.

Inilah Islam dan inilah manhaj salaf yang sudah seharusnya kita ikuti dan tunduk kepadanya, yakni ketika berbicara, bersikap, berakhlak, beradab, lemah lembut dan bahkan tegasnya wajib mengikuti contoh para Sahabat shallalahu ‘alaihi wa sallam.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

[¹] Musthofa Al-Adawy, Kitab Fiqhul Akhlaqi wal Mu’amâlâti Bainal Mu’minîn, Bab. Khafdush Sauti ‘inda Mukhathabati Ahlil Fadhli, hal. 234

Disusun di Bumi Allah – Cilembu, Rabu, 27 Rabiul Akhir 1443

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: